
G
imana rasanya, kalau hasil jepretan kita dipublish orang lain?
Gimana rasanya, kalau tulisan kita dimuat di jurnal orang lain?
Gimana rasanya, kalau semua itu tidak dilakukan atas sepengetahuan kita?Well...
Mungkin ada yang berpendapat:
- Ah, gpp.. Itung2 amal.. Toh itu bermanfaat buat orang lain juga..
- Ha? Oh ya? waduh.. kok dia gak bilang2 ya sama gue.. Ah tapi sudahlah..
- Eh gila ya.. Masa foto gue dijadiin iklan komersial, padahal gw ga pernah dapet royalti.. Ga boleh gini nih.. Mesti diusut..
Dan mungkin banyak pendapat lain terkait kasus
copycat ini.
Yah.. Mungkin ada kalanya satu orang pun bisa memiliki pendapat yang berbeda2 antara kasus yang satu dan lainnya.
Contohnya aku..
Mungkin untuk copy paste tulisan aku yang bersifat iseng, dan ada orang lain yang mempublish di blognya atau web manapun tanpa izin ataupun link sumbernya, aku mungkin akan menganggap tindakan itu sebagai suatu copy paste biasa.. Siapa tahu emang dia sendiri ga tahu dapet darimana entah karena sudah pindah tangan ke berapa gitu.. Yah cuek aja... Itung2 amal..
Untuk copy paste tulisan aku yang lebih berbobot dan punya nilai teknis, lalu tanpa izin maupun credits ke aku main publish di blog atau webnya dan seakan bahwa tulisan itu adalah tulisan dia.. Mungkin aku tetep cuek seperti kasus copy paste iseng.. Tapi apabila tulisan itu memiliki perubahan sedikit maupun banyak, dan si pelaku copycat itu seakan merasa paling tahu atau malah dia yang memang membuat tulisan itu.. Bisa jadi aku akan mencoba menegurnya..
***
Sadar atau tidak.. Siapapun berpotensi menjadi
copycat.. Bahkan akupun mungkin saja termasuk ke dalamnya.
Tapi selama ini yah..
Setiap aku mendapat sebuah jurnal yang menginspirasi aku untuk forward atau menulis tentang topik yang sama, aku akan meminta izin dari pembuat tulisan tersebut. Kalaupun misalnya aku lupa minta izin sebelumnya, di jurnal tersebut akan aku tulis bahwa aku copy paste atau mengambil dari tempat orang lain, dan mungkin akan aku lengkapi dengan link sumbernya. Akupun tidak akan pernah mengklaim apa yang aku tulis itu adalah hasil pikiran aku.
Atau.. Dalam contoh sederhana..
Ketika lagi kumpul2 --istilahnya kopdar--, aku pernah menjadi
collector foto dari beberapa kamera temen.. Tapi ketika aku publish, aku pasti akan bilang bahwa foto-foto di dalam album yang aku publish itu adalah hasil jepretan si ini, ini, dan itu.. Walau mungkin tidak bisa satu-satu disebutkan foto mana yang hasil jepretan siapa, tapi toh aku tidak mengaku sebagai pengambil foto itu. Hasil sendiri tapi pake kamera pinjeman aja aku kadang masih nulis kalo kameranya minjem, apalagi hasil jepretan orang (walau di kamera kita).
Jujurly,
aku sempet agak kecewa ketika ada yang mempublish foto2 hasil jepretan aku di albumnya. So far aku sama sekali tidak keberatan, karena toh itu foto kita2 juga..
Dari kita, oleh kita dan untuk kita... Cuma.. Yang aku sesalkan..
Dia sama sekali tidak minta izin... Or
at least..
at least lho ya.. terima kasih kek...
Boro2 untuk ngelink balik ke sumber aslinya.. Lha sekedar ucapan terima kasih atau minta izin aja engga...
Eh dia malah melakukan editing terhadap foto kita.. Seandainya pun pakai watermark di pojok, dengan teknik itu.. Dijamin deh watermark nya hilang..
Paling enak sih kalo watermarking nya langsung aja diagonal atau posisinya pas di tengah..
Tapi apa iya pantes untuk sekedar foto2 narsis pas kopdaran?
Pernah ada pengalaman serupa?
Menurut kalian gimana?