What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag nanya
Actually, aku pernah bahas soal ini sama beberapa anak forum CHIP.. Topiknya sama.. Tentang Masih perlukah InRaYeN?
Kebetulan di MP kan juga banyak tuh yang bisa dijadiin temen ngobrol dan diskusi seputar ini.. So.. sharing yuk...
Sekalian polling mungkin.. Menurut kalian bagimana..?
Kalau menurut aku.. Aku agak setuju dengan salah satu anak serayamotor yang jawabnya seperti ini:
Mengenai 'breaking-in', sebenarnya pada mobil modern pun, masih perlu dilakukan. Bedanya, proses break-in ini ada yg dilakukan di pabrikan, lalu mereset odometer kembali ke nol. Tapi, tidak semua model mobil, engine-nya sudah di-break in dari pabrik.
Contoh, kalau Lamborghini Gallardo, engine-nya sudah dilakukan break in di pabriknya dengan menggunakan dyno : menempuh jarak sekitar 1000 km dengan rpm stabil. Tapi kalau misalnya Jazz atau Innova yang CKD Indo, aku yakin HPM dan TAM tidak mau repot2 keluar biaya, waktu dan tenaga untuk mem-break in mereka, dan karenanya diserahkan pada konsumen saja.
Pada proses break-in ini juga, sekitar 1000 Km awal, tidak boleh langsung menggunakan pelumas (oli) mesin full-synthetic. Harus masih oli mineral (oli biasa). Penjelasannya, silakan lakukan mini-research tentang hal ini. Dan karena itulah, mobil baru dari pabrik pasti masih menggunakan oli mineral, kadang2 bahkan ber-spek di bawah rekomendasi standar di buku manualnya. Banyak orang menyangka, pabrikan hanya bersikap 'pelit' dan memberi oli murah, padahal sebenarnya, oli mineral ini berfungsi untuk meng-assist proses break-in agar dilakukan sebagaimana seharusnya.
Sedangkan mengenai kebiasaan rpm rendah vs tinggi, aku memiliki pendapat mengenai hal ini.
Sebenarnya, mesin mobil itu bekerja pada kondisi ideal pada putaran mesin tinggi, karena pada kondisi inilah, pelumasan mesin berlangsung secara sempurna, sehingga engine wear-out terjadi seminimal mungkin. Selain itu, pembakaran juga terjadi secara optimal.
Pembakaran yang tidak optimal, bisa menimbulkan penyumbatan pada injector. Karena itu, dikenal 'italian tune-up' yang bisa dilakukan sendiri untuk melepaskan pengotor pada lubang injector ini, yaitu dengan 'membejek' mobil pada rpm tinggi.
Mesin yang jarang berputar pada rpm tinggi, memiliki risiko tersumbatnya injector, pelumasan kurang sempurna dan pembakaran tidak optimal. Tapi, bagi yang senang berhemat dengan cara ini, ada solusinya, koq.
Masalah injector dapat diatasi dengan mencampurkan cairan injector cleaner ke tangki bensin pada setiap kali penggantian oli mesin. Tidak mahal, dan efektif.
Mobil yang jarang dibawa pada rpm tinggi, aku sangat menyarankan untuk menggunakan pelumas yang lebih bagus mutunya. Gunakan oli dengan viskositas optimal (= seencer mungkin, yang masih sesuai spek). Selain itu, tingkatkan frekuensi penggantian oli. Tahu sendiri, kalau mobil yg sering bermacet2, direkomendasikan lebih sering mengganti oli. Hal inilah yang melatarbelakangi rekomendasi tersebut.
Sedangkan masalah pembakaran kurang sempurna yang bisa meninggalkan kerak di ruang bakar, tidak akan terjadi jika menggunakan bensin dengan oktan sesuai spek. Contoh, Innova yang diberi minum minimal Pertamax. Tapi, jika diberi minum premium, disarankan setiap kali major service, mintalah ke workshop/bengkel untuk membersihkan kerak pada ruang bakar.
Terakhir, mengenai irit tidak, setuju dengan Mr. Tigor, sangat tergantung pada kebiasaan mengemudi. Faktor utama kedua adalah tenaga mesin itu sendiri, apakah adequate (cukup), atau under-powered.
Contoh, Honda Jazz i-Dsi, banyak polemik tentang irit vs boros. Tapi, polemik tidak begitu banyak pada Toyota Vios atau Jazz Vtec. Mengapa? Karena mesin i-Dsi pada Jazz, tenaganya jauh lebih kecil, hanya sekitar 88 hp dibanding 109-110 hp pada mesin VVTi/VTEC (tidak under-powered).
Mesin bertenaga lebih kecil memang lebih irit, tapi itu jika pengemudinya menyadari hal tersebut dan memperlakukan mesin itu sesuai fungsinya. Mesin i-Dsi mencapai torsi maksimal lebih besar dan lebih cepat daripada mesin Vtec berkapasitas sama, jadi seharusnya banyak dimainkan pada putaran rendah, berlawanan dengan karakteristik mesin VTEC yang tenaganya baru 'keluar' pada kecepatan tinggi.
Bagi yang tidak menyadarinya, hanya akan merasa tidak puas akan performance mobilnya, dan secara otomatis akan lebih sering menginjak pedal gas, dan menginjak dengan lebih dalam pula. Ditambah orang yang membeli Jazz i-Dsi, kebanyakan beranggapan bahwa mesin Honda itu typical enak dibawa pada putaran tinggi.
Hal inilah yang menyebabkan Honda iDsi 'gagal' di Indo, sampai HPM cepat2 meluncurkan juga versi VTEC dari Jazz dan City.
Orang yang mengemudi Jazz iDsi dengan cara yang salah, bisa lebih boros daripada Jazz VTEC, tapi yg mengemudi dengan cara yg benar, memang bisa mencapai angka fuel consumption yang sangat memuaskan.
My two cents on the subjects.
Kalau menurut buku manual sih seperti ini:
Dang, 1000km pertama yah? yang lain ga masalah.. Tapi poin 2 itu..
kata "memacu" itu gimana sih sebenarnya? berapa speed maksimal yang dibilang "jangan memacu" ?
coz aku cuma bawa sampai sekitar 130-140kph kemarin.. Mudah2an gpp..
itu script yang digunakan untuk masukin file swf ke web. file yang digunakan dalam object ini adalah intro.swf. diganti dengan url tempat kita menyimpan file swf itu..
aku dah test dengan script ini untuk nampilin shockwave di web.. kayak gini :
kalian yang pakai firefox atau opera harusnya tidak mengalami kesulitan
ketika load file shockwave itu (kalau sudah diinstall flash player tentunya).
Hanya.. kenapa di IE file tersebut tidak bisa di load yah? kira² ada
yang ngerti gak cara nya embed file swf yang bisa dibaca di IE juga..
atau ada diantara multipliers yang pakai IE untuk load page ini dan bisa meload file tersebut?