Eriq's posts with tag: overclock
 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Other | | Manufacturer: | Gigabyte |
Bukan barang baru, tapi berhubung aku biasa untuk ngereview barang yang aku beli.. Jadi kayanya ga klop kalo ga nulis review ini. Oke.. bahasan tech spec dulu ya.. Specification Model : GH-PDU21-MF Fan Dimension : 110 x 110 x 25 mm H/S Dimension : 110 x 110 x 109 mm Heatpipe : 4 Base material : Copper w/ Ni coating Fin material : Aluminium Fin Rated Voltage : 12 V Rated Current : 0.1-0.5 A Fan Speed : 1700-3200 RPM Airflow : 36.2-68.5 CFM Noise : 21.3-40.1 dB(A) Bearing Type : Ball Bearing Life Expectancy : 50,000 hr Total Weight : 430gr
Applications: Intel Pentium 4 Processor 870/670/530 (3.8GHz) Intel Pentium 4 478 3.4GHz AMD Athlon FX 55 (939/754) AMD Athlon XP 3200+ (Socket A) Oke.. cukup bahasa teknis nya.. Setidaknya cukup membantu buat yang lagi nyari pendingin untuk Komputernya. User ReviewBarang ini cukup banyak dapet rekomendasi dari forum CHIP. Terutama karena reputasi G-Power Pro ini sampai sanggup mengalahkan pamor nya Thermaltake Big Typhoon. Memang tidak seperti Big Typhoon yang menggunakan 6 heatpipe, tapi 4 heatpipe dari Gigabyte G-Power Pro ini cukup bagus, dan tidak memakan tempat besar seperti Big Typhoon. Disediakan pengencang untuk socket LGA775 Prescott, P4, K8 dan K7. Gigabyte menepati janjinya bahwa Easy Clip Installation - No tool required. Aku sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam memasang HSF ini pada K8, karena memang seperti memasang stock cooling bawaan pabrik. Disediakan juga box smart fan controller yang akan mengatur putaran kipas secara otomatis, dan sebagai tambahan juga disediakan manual controller berupa 3.5" drive di bagian depan dan PCI slot. Karena NZXT Nemesis ku ga bisa dipasang tonjolan di bagian depan, akhirnya aku terpaksa melepas potensiometer yang standarnya di bagian depan untuk dipindah ke PCI slot di belakang. Aku tidak menggunakan thermal grease bawaan Gigabyte, melainkan pakai Thermaltake Arctic Silver 5 yang menurut aku jauh lebih baik. Hasilnya, komputer aku burn test (AMD64 clawhammer 2800+ runs @ 266x9 / 2394MHz) selama 5 jam idle (ruangan non AC).. Suhunya ga sampai 40 derajat. Padahal kipas nya diset paling rendah (1700rpm). Performa yang cukup baik ini mesti ditebus dengan harga yang agak mahal, jadi aku rasa bintang 4 sudah cukup.. :) 

S etelah pengalaman buruk menggunakan sistem pendingin air (watercooling system), aku langsung trauma untuk kembali menggunakannya.. Setidaknya untuk komputer ku.. Seperti telah aku ceritakan sebelumnya di network message ku, kalau Komputer ku bermandikan coolant.. Yah, sistem pendingin air emang sangat cocok untuk yang menginginkan silent PC tanpa kehilangan kemampuan untuk mendinginkan sistem. Kelemahan dari sistem watercooling ini adalah, bahwa kita harus menguras air dan mengganti selang yang sudah agak lama secara berkala. Sekitar 3-4 bulan sekali.. Sebenarnya sekarang sudah ada sistem pendingin air yang fixed, ga perlu pasang copot selang.. tinggal pasang waterblock diatas processor dan pasang pompa nya di bagian casing. Beres. Tapi jeleknya adalah, selangnya didesain berwarna hitam dan tidak tembus pandang, sehingga yang pakai CCFL (Cold Cathode Flourescent Lamp) UV tidak akan menikmati warna nya.. Terakhir kalinya aku menguras komputer itu sekitar Februari akhir.. Sudah 5 bulan berlalu dan aku baru sempat menguras itu selasa kemarin, ketika kecelakaan itu terjadi.. Alhamdulillah semua perangkat ku selamat, hanya sbuah lampu CCFL UV yang tewas karena terendam sekitar 150mL cairan pendingin (coolant). Setelah itu, aku memutuskan kembali ke sistem biasa.. Kemarin aku ke mangga dua membeli Gigabyte G Power Pro untuk pendingin Processor seharga 420rb. Untuk graphic card, aku pakai stock cooling dari Winfast 6600GT, tentunya setelah underclock ke standar (500/900) dari sistem yang dulunya telah aku overclock 590/1200. Tadinya sempat pengen beli Zalman VF900 Cu LED, tapi harga 375rb nya lebih baik untuk tambahan membeli satu set tinta printer untuk MP800 ku. Tadinya aku tidak pakai kipas belakang, karena kipas belakang bawaan case NZXT emang powerful tapi berisik.. Dan aku membiarkan komputer ku tanpa kipas belakang semalaman (burn-in test). Nyatanya? suhu dalam sistem ku mencapai 45 derajat.. Whew.. Akhirnya tadi pagi aku pasang kipas bawaan Thermaltake Bigwater untuk radiator. Aku lepas radiatornya dan pasang kipas 12cm itu dibelakang casing. Suhu langsung turun 7 derajat. Jadi untuk komputer yang pakai kipas, sebaiknya minimal menggunakan 3 kipas. 1. Di bagian depan/samping, arah ke dalam (intake) 2. Di bagian processor nya (iyalahh.. plis d plis) 3. DI bagian belakang, arah ke luar (exhaust) Well.. udah dulu ah curhat nya.. mo kerja nih.. ^_^ Makasi buat yang uda repot² baca.. :D

 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Computers | | Manufacturer: | Tagan |
Aku pengen PSU ini sejak tanggal 6 Januari silam.. Pernah masuk market di sini. Tapi sejak saat itu, aku udah hunting barang nya ke mangga dua.. Ternyata ga ready stock dan aku disuruh nunggu sampai februari untuk seri EasyCon (U15). Yang ada hanyalah seri 2force (U22). Berhubung 2Force gak modular (aku nyari yang modular), U22 diluar keinginan ku. Akhir Februari aku ke toko, ternyata masih ga ada.. dan katanya masih kena Red Line, barang blum bisa turun dari pelabuhan. Aku terus menunggu sampai akhirnya PSU aku mulai menunjukkan tanda² bermasalah untuk supply power, terutama bagian Graphic Card.. Sudah beberapa kali bolak balik ke mangga dua, tetep blum ready stock juga.. Nah kemarin (jumat, 24 maret 2006) aku di sms oleh toko OC², memberi tahu bahwa Tagan sudah ada di distributor. Langsung aku ambil hari itu juga walau toko nya sudah mo tutup (demi komputer) ^_^ Agak sebel nunggunya.. soalnya disana, PSU ku ditest dulu untuk komputer orang yang pakai sistem Intel P4EE overclocked 3,8GHz dengan GPU x1900xtx.. ternyata emang sanggup.. ^_^ Hari ini aku sudah memasang PSU Tagan U15 di komputer ku.. Menggantikan PSU Simbadda 500W yang sejak Juli silam menyuplai daya tanpa henti.. Gak pake coba², aku geber untuk overclock Processor ku ke 300x9 (2700MHz), sanggup !! ^_^ cuma aku mah turunin lagi sesuai kebutuhan aku.. 266x9 (2394MHz) udah cukup lah.. ga panas dan performa nya lumayan.. Untuk urusan GPU, tadinya aku pakai 560/1100.. kali ini aku langsung coba ke 600/1200, gagal.. tapi turunin dikit 590/1200.. lancar.. walau CPU nya tadi sudah di OC ke 2700MHz. Yah, demi amannya, aku turunin sesuai kebutuhan aja.. 580/1100 sudah lumayan.. dengan clock CPU 2394MHz. Seneng juga pakai sistem modular.. Jadi terlihat lebih rapih karena aku cuma butuh 4 kabel.. : 1 Kabel SATA (untuk power 2 HDD SATA) 1 Kabel Molex (untuk 2 optical drive DVD±R/RW + DVD-ROM) 1 Kabel Molex spesial HDD/VGA (untuk 6600GT) 1 Kabel Molex (untuk HDD PATA dan Lampu²) Harusnya aku kasih bintang 5, tapi karena harga PSU ini emang agak kelewat ekslusif.. (aku beli seharga 1,35jt di mangga dua), jadi bintang 4 aja deh.. Percaya deh, untuk komputer high end sekalipun.. PSU ini bakalan sanggup.. Investasi kalo ingin upgrade komputer nantinya.... ^_^ Tegangannya stabil meski sudah di Prime Test dan lolos SuperPI 32M.. Most Wanted PSU for overclocker (n pc modding; karena U15 modular) 

 Larisnya
processor AMD Athlon64 di pasaran membuat penulis tergerak untuk
membuat guide sederhana tentang hal -hal apa saja yang diperhatikan dan
beberapa tips mendasar overclocking untuk processor Athlon64 dari AMD.
Dua platform berbeda yaitu 754 socket yang masih menggunakan single
channel memory dan 939 socket yang telah menggunakan dual channel
memory ternyata memiliki karakteristik yang sama persis untuk
mengoverclocknya.Ingin mengetahui lebih mendalam, silahkan nikmati
artikel berikut ini.
Athlon64 Processor Ada beberapa
perbedaan mendasar yang signifikan dari dua platform processor Athlon64
yang beredar saat ini. Processor athlon64 sama sekali tidak memiliki
FSB atau Frontside Bus. FSB ini digantikan oleh frekuensi kecepatan
koneksi antara CPU dan Memory Controller. Pada processor Athlon XP,
biasanya terdapat FSB 133, 166 atau 200 yang efektif pada 266, 333 dan
400 DDR, tergantung dari model processor tersebut.
Sedangkan memory controller pada processor Athlon64 terintegrasi pada
processor itu sendiri, oleh karena itu frekuensi memory controller sama
dengan kecepatan dari processor. Tidak ada hubungan atau konektivitas
ke Northbridge chipset pada motherboard samasekali. System ini dikenal
dengan nama Hypertransport Link, yang biasa diukur dengan 800 MHz
(efektif di 1600) pada socket 754 (gambar paling atas) dan 1000 MHz
(efektif pada 2000) untuk socket 939. (gambar bawah).
Hypertansport Link
Kecepatan Hypertransport Link diperoleh dari nilai baku/default dari
kecepatan HTT yaitu 200 (bisa dilihat pada CPU Frequency setting pada
gambar diatas ini), dikalikan dengan HT Multiplier (nilai pengali) yang
dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Kondisi default dari multiplier
ini adalah 4X untuk 754 platform dan 5X pada 939 platform. Yang penting
diperhatikan saat menaikkan HTT (Hypertransport Link), harus diikuti
dengan menurunkan multiplier HT.
Bila hasil perkalian multi HT dan HTT melewati batas 800 atau 1000
(tergantung pada jenis processor yang digunakan) akan mengakibatkan
ketidakstabilan pada system. Oleh karena itu sering sekali penulis
mendapatkan keluhan atau komplain mengenai hasil overclock berbasis
athlon64 yang hanya bisa pada 220-230 HTT dan kebanyakan dari mereka
mengganggap bootleneck terdapat pada memory atau processor, padahal
sebenarnya dengan menurunkan multi HT, perolehan HTT akan jauh lebih
tinggi.
CPU Multiplier Prinsip dasar dari CPU
Multiplier yang dimiliki oleh processor Athlon64 adalah sama dengan
processor lainya, hanya penamaan/istilah saja yang sedikit diubah.
Untuk processor Athlon64, CPU Multiplier dikenal dengan FID (Frequency
ID). Sayangnya, processor Athlon64 hanya mengijinkan perubahan
multiplier kebawah dari multi defaultnya, selain itu multiplier di
kunci.
Beberapa BIOS motherboard mengijinkan perubahan dengan 1/2
kali pada FID, namun terkadang kondisi ini dapat menyebabkan
ketidakstabilan pada system atau bahkan system tidak dapat hidup
samasekali. Jadi, jauh lebih baik bila setting CPU Multiplier
ditetapkan pada kondisi default. Pengecualian untuk processor Athlon
FX, dimana processor ini memiliki multiplier yang tidak terkunci atau
bebas, jadi multiplier dapat ditingkatkan atau diturunkan dari nilai
default.
Memory Divider
Tidak seperti
Athlon XP, processor Athlon64 tidak mewajibkan FSB berjalan synchronus
atau 1:1 dengan kecepatan memory. Pada athlon XP akan terjadi penurunan
yang signifikan bila divider memory digunakan, namun pada Athlon64,
penurunan kinerja dengan menggunakan divider memory (asynchronus)
hampir tidak terasa perbedaannya dengan tanpa divider memory
(synchronus).
Berbicara soal divider memory, perlu ditegaskan
bahwa prinsip lama yang mengatakan bahwa semua processor AMD hanya akan
berjalan dengan optimal bila menggunakan ratio 1:1 (synchronus mode)
tidak berlaku untuk AMD Athlon64.
Dengan athlon64, anda bisa
bereksperimen dengan berbagai divider yang ditawarkan oleh BIOS tanpa
harus kuatir akan terjadi penurunkan kinerja yang signifikan seperti
pada athlon XP.
Kenapa hal ini bisa terjadi ? Jawabannya adalah
karena memory controller yang sudah terintegrasi pada processor
Athlon64. Pada athlon64 divider akan diikutkan pada perhitungan CPU
Multiplier untuk menghasilkan ratio.
Tabel dibawah ini menunjukkan beberapa setting dari divider memory yang terdapat di BIOS dan hasilnya.
Angka angka pada baris paling atas berhubungan dengan kecepatan memory
pada BIOS. Beberapa motherboard terkadang hanya memiliki kecepatan
standard ala JDEC (badan yang mengatur standarisasi kecepatan memori
module), seperti 200, 166, 133 dan 100, sedangkan beberapa motherboard
lain memiliki setting yang beragam.
Angka-angka yang berada
di dalam kurung pada kolom BIOS Memory Speed menunjukkan rasio
hypothetical pada setting kecepatan tertentu. Sebagai contoh, untuk
dapat menjalankan memory pada frekuensi 166 Mhz sedangkan base
frekuensi adalah 200 adalah dengan mengubah setting ratio menjadi 5/6
dan akan didapatkan frekuensi sebesar 166.66. Namun seperti yang telah
diutarakan diatas, bahwa pada Athlon64 ratio menjadi faktor yang
mempengaruhi CPU Multiplier, maka dapat dilihat pada baris yang
menunjukkan multiplier yang digunakan. Contoh : Processor Athlon 64
"Venice" 300+ memiliki multiplier 9, lihat pada baris multiplier 9 dan
kolom memory 166 maka akan ditemukan ratio yang digunakan untuk setting
ini, yaitu 9/11. Sangat berbeda bukan ? Ratio 9/11 mengindikasikan
kecepatan memory pada 163.63 yang mendekati angka 166. Hal ini bukan
masalah namun perlu diperhatikan.
Pengujian
Saatnya
penulis akan mencoba mempraktekan teori yang telah dijelaskan
sebelumnya. Untuk itu, kami menggunakan 2 system berbeda, satu
menggunakan Athlon64 3000+ "Venice" dan memory PC 3200 (DDR400) dan
satu lagi menggunakan processor 3200+ (Venice) dengan memory PC4000
(DDR500).
Perhatikan saat menaikkan frekuensi HTT, multiplier HT diturunkan untuk
menjaga kecepatan HTT Link dapat mendekati kecepatan default. Terkadang
kombinasi ini menyebabkan kecepatan HTT Link lebih tinggi atau lebih
rendah sekitar 5-10% dan hal ini wajar saja.
Lebih dari itu akan menyebabkan penurunan kinerja dan ketidakstabilan pada system.
Perhatikan juga frekuensi HTT yang tinggi mengharuskan setting memory
diturunkan, 166 pada awal dan 133 pada akhirnya untuk PC 3200. Hal ini
dilakukan untuk menjaga memory berjalan mendekati spesifikasi default.
Namun bila anda memiliki memory yang lebih baik dari sisi performa,
anda dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan frekuensi memory yang
lebih tinggi atau HTT yang lebih tinggi juga. Anda membutuhkan
kertas, bolpen dan kalkulator untuk memudahkan mendapatkan setting yang
sesuai dengan cepat, dibandingkan mencoba opsi yang tersedia pada BIOS
satu demi satu.
Karena default frekuensi HTT bukanlah
kecepatan FSB, tidak akan ada gunanya untuk memaksimalkan nilai ini.
Konsentrasi untuk memaksimalkan CPU dan kecepatan memory, dan gunakan
divider HTT dan memory untuk dapat mendapatkan setting yang optimal.
Sekarang mari kita coba hasil overclocking yang nyata dari teori teori
diatas, dengan menggunakan Venice 300+, sebuah motherboard nForce4 dan
memori PC 4400
Pada screenshot pertama dari CPU-Z, kita mencoba untuk memaksimalkan
memory sampai batas kestabilannya. Tegangan memory dimaksimalkan hingga
2.9 volt dan HTT speed dinaikkan dari 250 menjadi 290. Untuk menjaga
kestabilan pada frekuensi yang tinggi, latency memory di setting lebih
"lunak".
Screenshot kedua, penulis mengubah setting memory menjadi 166 di BIOS,
yang menghasilkan ratio 9/11 dengan setting CPU Multiplier default
(9X). Kemudian menaikkan frekuensi HTT dari 290 ke 320. Bila terjadi
freezee pada system atau hang atau muncul Blue Screen Of Death (BSOD),
kemungkinan harus ditambahkan tegangan pada processor. Penambahan
tegangan bisa dilakukan melalui BIOS pada bagian VCore, naikkan sedikit
demi sedikit dan tiap menaikkan tegangan coba test stabilitynya dengan
menggunakan SuperPi atau 3DMARK 2001SE. Pada percobaan ini, dengan
menggunakan maksimal setting untuk tegangan processor yang disediakan
oleh motherboard yang digunakan (1.7 volt), didapatkan clock sebesar
2.900 MHz stabil. Dengan memory divider yang digunakan, maka frekuensi
memory berjalan dibawah frekuensi percobaan pertama bahkan dibawah
setting default sebuah memory PC 4400, sebagai kompensasinya,
timing/latency memory di perketat menjadi 2.5-4-3-7.
Pada
kondisi ini, seandainya kita memiliki processor dengan multiplier 10
dan bisa berjalan pada clock 2.9 GHz seperti percobaan diatas, dengan
menggunakan memory yang sama, kita akan mendapatkan frekuensi memory
1:1 pada HTT 290 dengan multiplier 10.
Dengan menurunkan CPU Multiplier menjadi 8X, dan setting memory divider
di 166, penulis dapat mencapai HTT 360 tentu saja dengan HT Multi
sebesar 3X , dimana pada setting ini, baik CPU maupun memory mendekati
maksimal overclock setting yang stabil, seperti pada percobaan pertama.
Perhatikan bahwa memory ratio telah berubah menjadi 8/10 karena terjadi
perubahan pada CPU Multiplier.
Mudah mudahan artikel ini membantu anda dalam melakukan overclock yang maksimal pada system AMD Athlon64 yang anda miliki.

|  | yea.. berhubung motherboard ku matot.. akhirnya aku ganti motherboard + processor baru.. karena dana terbatas, aku pakai AMD Athlon64 2800+ socket754 dan ABIT NF8 motherboard |

kayaknya floppy ku sama motherboard aku tu temen deket d.. masa begitu aku buang tu floppy (inget jurnal ku yang goodbye my dear floppy drive.. ^^ ?) komputer ku bermasalah..
semalem.. 23 agustus 2005 jam 18.15.. yang tadinya aku pikir processor ku
yang rusak, hari ini setelah pasang 3 jenis processor berbeda (Athlon
Thunderbird, AthlonXP ThroughBred dan Sempron), ternyata hal yang sama
terulang lagi.. bahkan udah dibongkar pasang pun MB nya tetep matot..
cabut baterai cmos atau reset bios gak ngefek.. ketiga processor itu
udah di tes di motherboard lain OK aja.. berarti...
MOTHERBOARD KU........
IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUU  (kan mother nya board)
*yaela riq, lagi bt gini sempet2 nya bercanda lagi*
3 processor test tadi :
benar.. ASUS A7V8X Deluxe ku (VIA KT400A, FSB 333MHz, RAID, SATA, Firewire, SC, LAN, AGP8x) itu telah tiada...
mo klaim garansi sudah tidak berlaku karena umurnya sudah cukup tuir..
akhirnya aku uninstall watercooling ku.. lepas waterpump, radiator,
waterblock vga dan cpu, keluarin coolant nya.. lepas semuanya..
sebenernya aku berniat ke AMD64 socket 939 dengan motherboard Abit Fatality AN8 SLi (pernah ada di wishing list aku di sini) dengan processor venice 3200+ atau winchester 3000+
tapi berhubung dadakan dan aku ndak bisa beli GPU berbasis PCI-x16 yang
harganya 2,5.. aku memutuskan untuk beli AMD64 2800+ socket 754 dengan
motherboard ABIT NF8.
yah liat besok d.. sekarang masih pake lappie duluw...


entah kenapa... pas kemarin sore pas aku lagi pakai komputer, tiba2
blue screen.. aku matiin.. terus setelah aku nyalain lagi.. BIOS ku
yang pakai Vocal POST messages ngomong "system failed CPU test".
ha? CPU test failed? how come? sejak pengalaman aku pertama masang
processor ke socketnya, belum pernah sekalipun salah masukin pin
processor ke socketnya.. kan ada pin tandanya.. lagian ga mungkin masuk
kalau salah pin..
sudah aku lepas dari socketnya, aku cek processornya.. physically, ga
ada yang mencurigakan. aku pasang dengan hati2 dan berharap semoga
komputernya boot, ternyata tetap... HUAAAA...
kalau sudah begini, aku curiga cuma 2 hal penting..
- Processor nya rusak (entah karena umur atau overclock)
- Motherboard nya yang rusak sehingga pas detect CPU menganggap failed
seandainya 2 parts tersebut rusak, berarti costnya tinggi.. karena aku
malah berniat mengganti ke AMD64 yang memiliki socket 939. Lagipula,
kalau sudah 2 parts tersebut diganti, mo gak mau aku mesti beli graphic
card dengan interface PCI express yang juga nggak murah..
DOOOH... kenapa terjadi pas sekarang sih? saat expense agustus yang
lagi besar2an ? mulai dari pajak mobil dan motor aku, wisuda, bayar
tagihan yang lagi mahal, trip ke bandung, dan segala pengeluaran untuk
pimp my PC.. damnn...
ya aku masih bisa bersyukur laptop ku ini setia menemani hari2 ku.. itu aja...

|  | hemm.. ada temen ku beli PSU untuk sistemnya, dengan harapan PC nya terlihat lebih rapih.. kita liat...
PSU nya diganti dari Simbadda 500W ke AeroCool Turbine Power 550W modular.. harganya yang 1,25 ga bisa dibilang murah untuk sebuah power supply.. tapi bisa dipastikan PSU ini masuk kelas high end.. selain sudah Active PFC, dibalut warna black mirror surface, model konektor yang bagus dan UV reactive plastic sleeving. |
    | Kandalf | Aug 22, '05 11:29 AM for everyone |
 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Computers | | Manufacturer: | Thermaltake |
baru ngereview casing yang temenku beli seminggu yang lalu.. Thermaltake Kandalf Black casing seharga 2,15jt (tanpa Power Supply) ini emang berukuran besar, tapi masih lebih pendek daripada CoolerMaster CMStacker. Fitur unggulan casing yang berat kosongnya 18Kg ini adalah : - BTX upgraded kit (optional) - Removable HDD Cage - Tool-free installation for 5.25" device - Dual USB 2.0, IEEE 1394 Firewire, Audio and speaker ports - Relocate-able front control panel (power, reset switch, hdd & power led) - Screwless slots for easy assembling - Retractable Foot Stand - 3x 3.5" HDD Module with 12cm fan - Accessory Box bundled in 5.25" drive bay - HDD & FDD rack for 5.25" drive bay installation - Ventilation holes on top (62% opening ratio) - Extra Large thumb screws for easy open side panel - Side Panel Lock Case ini memiliki total 14 drive bays, yang di depan bisa sampai 10 x 5.25" dan 2 x 3.5" sedang internalnya 6 x 3.5" kesan pertama liat casing ini tentu.. eksklusif.. jarang banget yang punya.. tapi dengan harga segitu tanpa lcd display, rasanya kurang valuable.. lega, spacious dan elegant.. iya.. keliatan lebih ok dengan lampu² kayak temenku itu:  ini boxnya  
|  | hurray.. akhirnya aku merubah penampilan PC ku.. modding kecil²an sih.. supaya terlihat beda..
list nya : - NZXT Nemesis Black (case) - Thermaltake Bigwater (watercooling system) - Thermaltake Aquarius II (graphic adapter watercooling system) - Thermaltake XRound Cable PATA (blue) - Thermaltake XRound Cable SATA (green) - Thermaltake PerfectLight CCFL -voice controlled (blue) - Thermaltake PerfectLight CCFL - UV - Thermaltake Bigwater Coolant 500mL - Thermaltake Powerful Thermal Grease #2 - Arctic Silver 5
ga ada masalah berarti sih waktu migrasi dari enlight 7237 ke casing ini.. hanya jariku sempat terluka ketika masang radiator.. :(
masih kurang internal card reader sama beberapa LED fan.. yea sedikit² lah.. sayang keyboard dan monitor masih bernuansa silver.. T_T
pemasangan radiator di luar karena di dalam ternyata gak cocok dengan layout board asus A7V8X deluxe (kena bagian AGP).
masalah yang fatal cuma karena kesalahan masang kabel HDD LED yang kupasang di motherboard di pin SMI LEAD. ternyata malah ga mo booting.. sempet panik.. apa karena ganti kabel SATA, salah pasang RAID, atau kurang daya..
ternyata cuma kesalahan pasang kabel HDD LED yang seharusnya di IDE LED.. >.< |
| |